arifin62

BERHARI RAYA DI INDONESIA DAN DI MAKKAH

In 1 on September 25, 2008 at 9:21 am

BERHARI RAYA DI INDONESIA DAN DI MAKKAH

 Menjelang Idul Adha tahun 2004, saya dikunjungi oleh seorang kawan. Ia memberikan sebuah naskah khotbah id, dengan harapan saya sebagai khotib menyampaikan khotbah dengan naskah itu.

 Pembicaraan berlanjut, hingga sampai menyangkut hari apa hari rayanya karena pada tahun itu terjadi perbedaan di Indonesia juga perbedaan antara Indonesia ( Jum at ) dengan Saudi Arabia ( Kamis ). Tamu saya akan berhari raya pada hari yang sama dengan  hari rayanya Saudi atau sehari lebih awal dari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Dari perbincangan saat itu, saya mendapat penjelasan dan mengetahui jalan pikiran mereka.

 Penjelasan mereka Pada zaman Salaf, tidak ada perbedaan hari raya hanya karena batas negara, semua negara berpatokan pada Mekkah. Setelah zaman Salaf baru ada perbedaan karena batas negara, Dan yang terjadi di Indonesia hanayalah karena pemerintah telah terlanjur menetapkan lebih dahulu pada kalender nasional, idul adha tahun ini hari Jumat, dan tidak mau lagi menyesuaikannya dengan kenyataan terakhir dimana pemerintah Saudi belakangan menetapkan satu hari lebih dahulu dari yang telah ditetapkan oleh Indonesia yaitu hari Kamis. Kalau perbedaan waktu antara Indonesia dan Saudi hanya beberapa jam, kenapa harinya harus jadi berbeda. Begitu antara lain penjelasannya. Jelasnya, bagi mereka hari raya ikut hari rayanya akkah, Saudi sebagai titik sentral aktivitas ritual idul adha.

 Kita mengkaji.

Kita kenal istilah, Sahabat, yaitu orang Islam yang bertemu Nabi Muhammad, berikutnya adalah Tabiin yaitu orang Islam yang bertemu dengan sahabat, Tabiittabiin yaitu orang Islam yang bertemu dengan Tabiin, Salaf yaitu orang Islam yang bertemu dengan Tabiittabiin, baru para Khalaf yaitu generasi dibelakang  para salaf.

 Pada zaman Salaf semua persoalan masih dapat diselesaikan dengan berorientasi pada Mekkah, karena segala persoalan yang timbul masih dapat terjawab dengan bertanya pada para Tabiin, atau meneliti perilaku para Tabiin dan sahabat jika tidak menemukan hadis tentang suatu permasalahan yang timbul,

Kalau ada persoalan umat yang diluar sentral Mekkah misalnya berhari raya pada hari apa di daratan cina? hal itu dapat terjawab dengan hadis yang mengajarakan bahwa ” berbuka dengan melihat hilal syawwal”.Kalau ternyata berbeda dengan hari raya di Makkah, maka perbedaan itupun tidak mereka ketahui secara cepat dan tepat, jadi di Asia hari raya Jumat sementara di Makkah Kamis, tidak jadi persoalan, disamping karena tidak saling tahu dalam waktu yang cepat, juga ada riwayat bahwa

“Kuraib berkata, aku datang dari Syam, disana aku dapat melihat Hilal Ramadhan dengan mudah, dan saat di Syam aku melihat bulan malam Jum at, Setelah sampai di Madinah di penghujung Ramadhan, aku ditanyai oleh Ibnu abbas, menyangkut bulan, kapan kamu melihat Hilal Ramadhan, kukatakan kami melihatnya malam jum at, orang-orang lalu puasa, juga Mu awiyah. Ibnu Abbas berkata, sedangkan kami melihatnya malam sabtu, lalu kami terus puasa sampai kami melihat hilal Syawwal atau kami genapkan Ramadhon 30 hari. Kuraib bertanya, apa tidak cukup Hilal yang di rukyah di Syam serta berpuasanya Mu awiyah ? Ibnu Abbas menjawab, tidak, karena begitulah ajaran Rasulullah kepada kami”.

Turmuzi berkomentar tentang riwayat ini…… para ahli ilmu menerapkan hadis ini, bahwa pada setiap negeri, rukyahnya masing-masing. ( FS.I.326 ) Itu terjadi di zaman sahabat bersama Tabiin.

 Di zaman khalaf. karena umat Islam teleh menyebar luas, mulai timbul persoalan baru, misalnya bagaimana puasanya orang di Kutub Utara atau selatan yang waktu siangnya jauh lebih lama dibanding waktu malam atau sebaliknya, para ulama Khalaf telah mendiskusikan dan menyimpulkan hal ini. Dan persoalan semacam itu memang tidak dibahas ulama Salaf karena belum terasakan, demikian pula masalah hari raya yang berbeda antara yang di Asia dengan yang di Saudi Arabia. Diskusi mengenai masalah ini cukup panjang dan luas, melibatkan ilmu falak atau astronomi, penggunaan istilah ‘mathla’ menjadi mutlak diperlukan. Mathla’ ialah posisi hilal saat muncul dilihat di suatu tempat di bumi, mungkin hilal tidak dapat dilihat pada saat matahari terbenam di bumi bagian timur, tapi beberapa waktu kemudian dapat dilihat pada bumi bagian barat, berarti bahwa perbedaan terlihat bulan atau tidak terlihat adalah persoalan perbedaan waktu antara timur dan barat.

 

Berkaitan perbedaan waktu antara timur dan barat, ulama khalaf sudah menyelasaikan sejumlah persoalan yang timbul, misalnya, waktu shalat antara orang dibumi bagian timur lebih awal dari yang di bagian barat. Seandainya ada dua orang anak dan bapak, yang anak di timur dan bapaknya di barat, keduanya mati pada saat matahari terbenam, maka bapaknya menjadi waris terhadap anaknya, karena anaknya lebih dahulu mati dari ayahnya, berikutnya saudara si ayah dapat menjadi waris terhadap si ayah itu tadi.

 

Zaman salaf, informasi tidak terlalu cepat, hingga orang di asia tidak tahu dengan cepat kapan hari raya di Saudi, hingga kalau terjadi perbedaan tidak menimbulkan masalah, tapi di zaman ini  apa yang terjadi di barat dapat diketahui oleh orang di timur dalam waktu hitungan jam bahkan menit, maka tahulah muslim Indonesia mengenai kapan hari raya di Mekkah, bila ternyata berbeda, maka timbul perbedaan sikap.

 

Kalau demikian yang terjadi, maka ulama Indonesia umumnya berpegang pada riwayat Kuraib, dengan penerapan bahwa kondisi Syam yang relatif mudah terlihat bulan, berbeda dengan Madinah yang relatif tidak semudah di syam ( Syiria ). Posisi hilal di Indonesia pada saat matahari terbenam belum bisa dilihat, sementara lima jam kemudian di Makkah  yang disebelah barat dari Indonesia, posisi hilal lebih tinggi hingga dapat dilihat, maka hasil rukyah di Indonesia berbeda dengan hasil ruk yah di Mekkah, akibat fiqhiyah yang timbul juga berbeda.

 

Pada saat matahari terbenam di Indonesia ( hari ahad sore, umpama) hilal belum bisa dilihat maka Senin di Indonesia masih hari terakhir zulqi’dah, saat itu di Makkah masih siang hari Ahad, dan pada saat matahari terbenam Ahad sore di Makkah hilal dapat dilihat ( saat yang sama di Indonesia sudah hampir tengah malam Senin ), berarti Senin di Makkah sudah tanggal 1 zulhijjah.

 

Selasa pagi tanggal 9 Zulhijjah di Makah Wukuf,  saat itu Selasa siang di Indonesia. Di Makkah Rabu pagi  idul adha  saat itu di Indonesia  hari Rabu sudah siang.

 

Rabu pagi di Indonesia, saat yang sama di Makkah masih Rabu dinihari sekitar  jam dua  pagi.

 

Persoalan yang tibul adalah,

 

  • 1. Apabila orang di Indonesia ikut Makkah hari raya hari Rabu, lalu shalat ied Rabu pagi di Indonesia( waktu doha ), padahal saat itu masih hari Selasa malam Rabu di Makkah dan belum waktunya shalat ied, atau;
  • 2. Pada saat masuk waktu shalat iedul adha di Makkah ( waktu doha ) maka saat itu di Indonesia sudah menjelang zohor dan waktu untuk shalat ied di Indonesia sudah habis.

 

  • 3. Hari dan waktu sholat id marupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisah, maka jika harinya ikut Makkah, waktu sholat idnya juga ikut waktuMakkah, tidak akan dilakukan sholat id di Indonesia jika belum sampai waktunya di Makkah. Jika di Makkah masih dinihari, lalu pagi di Indonesia sudah sholat id, bukankah itu mendahului Makkah ?,

 

Persoalan persoalan semacam itulah yang menjadi masalah bagi mereka yang tidak ikut hari rayanya Makkah, tapi bukan masalah bagi mereka yang ikut Makkah, ditulah diantara sebagaian masalah yang  terjadi  perbedaannya.

 

Wallahu a’lam bisshawab ( Tulisan ini lebih bersifat pertanyaan orang awam yang membutuhkan penjelasan ).Bacaan Fiqhussunnah, Sabilal Muhtadin, Alfiqhu ala mazahibil arba’ah  200105       Kurniadi,    ( 08164572605 )

 

  1. […] BERHARI RAYA DI INDONESIA DAN DI MAKKAH, 2008/11/06 at 4:34 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: