arifin62

H.Kurniadi+KENAPA HARI RAYA BERBEDA?

In 1 on September 25, 2008 at 9:29 am

LEPASKAN OTORITAS UNTUK  KEBERSAMAAN  DEMI KEAGUNGAN UMAT

Dalam ber-Idulfitr tahun 1428, penuh warna warni, Dunia menjadi dua warna- warna Jum at dan warna Sabtu, ada yang ber idul fitri hari jum at dan ada yang hari Sabtu.Timur Tengah  saja ada dua warna, Jum at juga Sabtu, Iran, dalam satu negara ada yang hari  Jum at dan juga ada yang hari Sabtu.

Yang spektakoler, ruar biasa, mungkin  bisa masuk, MURI, Indonesia Panca  warna, ada lima hari yang menjadi hari idul fitri tahun 2007 ini. Ada yang berlebaran hari Rabu, Kamis, Jum at, Sabtu dan bahkan ada yang hari Ahad.

Pakar astronomi atau ahli ilmu falak  negara Arab Saudi mengatakan bahwa pada hari Kamis tangal 11 Oktober, bulan masih sangat kecil, akan sangat sulit terlihat meski dengan alat canggih, maka lebaran nanti jatuh pada hari Sabtu, rupanya Ahli Hisab juga tidak bisa dipegang, .ternyata rukyah membuktikan lain, Saudi lebaran pada hari Jum at, karena nyatanya  bulan dapat dilihat di Saudi,

Kelompok Annazir di Sulawesi ber- idul fitri pada hari Rabu, hal itu mereka putuskan dengan berpatokan pada gejala alam- air laut pasang-dalam kondisi sedemikian rupa, menurut mereka menandakan bulan Syawal sudah tiba pada hari Selasa malam rabu. Thoriqat Naqsabandiyah Qadiriyah di Sumatera, dan juga warga sebuah Pesantren di Jawa ber-idul fitri pada hari Kamis karena puasa mereka lebih awal dua hari, hingga hari Rabu puasa mereka sudah  genap 30 hari.

Salah satu Ormas Islam di Indonesia mengajak anggotanya ber- idul fitri hari Jum at  karena Kamis malam bulan pada posisi yang  ( di Samarinda, 0,35 derajat dibwah ufuq ) dianggap sudah wujudul hilal, Departemen Agama menetapkan Sabtu sebagai tanggal 1 Syawal atas dasar istikmal    ( menggenapkan hitungan bulan Ramadhon menjadi 30 hari ) karena Kamis malam Jum at tanggal 11 Oktober bulan tidak terlihat,

Naqsabandiyah Khalidiyah Desa Kapas, Paterongan, Jawa Timur,  berlebaran pada hari Ahad karena malam Jum at tidak melihat bulan, malam sabtu bulan  juga tidak terlihat, baru sabtu malam ahad bulan terlihat. Sementara Kejawen Abuge  juga pada hari Ahad,

Pada tahun lalu ada Ormas Islam di Indonesia, yang hari rayanya berpatokan pada Makkah, kalau Makkah hari raya mereka ikut berhari raya.

Meski perbedaan itu dianggap sah sah saja, hingga juga bukan masalah yang mengejutkan kalau di Indnonesia tahun ini  adalah tahun yang penuh hari raya, lima hari idul fitri,  sejak Rabu sampai Ahad hari raya, banyak orang merasa miris atau gundah melihat sikap umat, baik yang awam apalagi yang tokohnya, betapa rapuhnya kebersamaan umat Islam kalau orang memandang dari sisi berlebaran tahun ini. Tapi baiklah, perbedaan itu tidak perlu diperdebatkan berkepanjangan, namun perlu direnungkan, guna mendapatkan gagasan cemerlang, Untuk yang terbaik, bukan untuk sekedar menang.

Seorang tokoh ormas Islam dalam khotbah Ied nya hari Jum at di Jakarta, berseru agar umat Islam bersatu jangan berpecah belah. Ada pemirsa TV dirumah yang nyeletuk, “kalau itu pasti urusannya sampean sampean, Karena Allah telah mengajarkan agar apabila ada perselisihan pendapat supaya dikembalikan kepada Allah, rasul Nya dan Ulil Amri kalian.Kalau ingin umat ini bersatu, tidak berpecah belah,  dan terlihat pada hari berlebaran, itu tergantung sampean pak Din,pak Amin, Gus Dur, pak Menteri Agama, Sampean pak kyai,  pemimpin psantren juga sampean tokoh pemimpin thoriqat, yang selama ini seakan memiliki otoritas sebagai Ulil Amri bagi anggota kelompok  organisasi sing masing, hingga di Indonesia ini tidak satu pihak pun yang mempunyai otoritas yang utuh terhadap masalah masalah publik intern beragama umat, umat Islam.Kalau sampean sampean itu mau elepaskan otoritas dalam hal menetapkan awal dan akhir puasa Ramadhon bagi pengikutnya, dan menyerahkan otoritas itu kepada satu pihak saja yang diakui sebagai ulil amri, seperti kata Syekh Saed Ramadhani Al Buthi,Ulama terkemuka Suriah” agar umat tidak bingung, jangan lagi ada ormas yang menetapkan awal dan akhir Rmadhon, hanya pemerintah”.warga manapun, anggota ormas apapun diarahkan agar ikut pihak yang diakui otoritasnya sebagai ulil amri itu, ulil amri itu mau pakai metode hisab atau rukyat, asalkan jangan metode hisab rakyat, bisa disepakati, kalau mau begitu, rres berres ta iyye”

Kalau pemimpin kelompok An Nazir, Naqsabandiyah Kadiriyah, Khalidiyah, Pemimpin Pesantren, Ormas, berkenan melepaskan otoritas mereka, tidak lagi masing masing menetapkan awal/akhir ramadhon bagi anggota atau pengikutnya, biarkan itu menjadi kewenangan ulil amri, berikutnya hal hal bersifat teknis, seperti masalah kreteria wujudul hilal maupun imkanurrukyah, akan dapat disepakti dengan mudah, maka umat ini bisa bersatu, puasa dan lebaran serentak dari sabang sampai merauke, bulan nya satu, harinya satu, awal puasanya satu dan lebarannya bersamaan.

Tapi Kalau Pemimpin Kelompok Annazir di Sulawesi berfatwa awal atau akhir Ramadhon berpatokan pada gejala alam- air laut pasang, Thoriqat Naqsabandiyah Qadiriyah atau Pesantren  puasa mereka lebih awal dua hari, Ormas Islam di Indonesia mengajak anggotanya ber idul fitri karena dianggap sudah wujudul hilal, Naqsabandiyah Khalidiyah karena tidak melihat bulan sampai mundur dua hari baru terlihat, baru berhari raya, atau  pemimpin Ormas mengajak warganya berhari rya berpatokan pada Makkah.Kalau setiap pemimpin itu masih menggunakan otoritasnya untuk menetapkan awal dan akhir ramadhon bagi pengikutnya  masing masing, tidak mau melepaskan  otoritasnya itu dan menyerahkannya kepada kewenangan satu pihak yang dianggap sebagai Ulil amri, jangan harap tercapai persatuan umat bisa terliahat dalam berhari raya.

Lagi pula, kalau msyarakat, masing-masing ikut keputusan pemimpin kelompoknya, atau organisasinya, bagaimana kalau pemimpin kelompok itu suatu saat meninggal dunia, atau jika organisasi itu bubar, mau lebaran hari apa, ikut siapa? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?

Mestinya, kalau tidak menguasai ilmu hisab, tidak memiliki alat rukyah, maka ikut  Ulil Amri yang diangap paling berwenang menetapkan awal akhir ramadhon, karena Ulil Amri dapat menghimpun para pakar, ahli hisab, memiliki dan pandai menggunakan alat rukyat, hingga hasilnya lebih memenuhi tanggung jawab bagi kepentingan publik, melapaskan ketergantungan pada seorang tokoh yang suatu saat bisa pergi atau organisasi yang bisa bubar.

Kalaupun Ulil Amri bubar , pemerintahan berganti, kita lihat apakah masih ada pihak yang dapat dianggap sebagai Ulil amri yang refresentatif bagi umat Islam, kalau tidak, ya cari alternatif baru yang sesuai dengan semangat Alqor an dan prasyarat fiqh.

Mungkin yang jadi masalah, pihak mana yang dapat dianggap sebagai Ulil Amri yang refresentatif hingga dapat diakui secara fiqhiyah oleh semua kalangan umat Islam untuk menetapkan awal akhir rmadhon?, Apakah Menteri Agama ? padahal, meski  Menteri Agama itu beragama Islam tapi jabatannya mengurusi semua agama, untuk menjawabnya kita balik bertanya, pihak yang mana ?. Kalau tidak ada, mari kita akui saja pemerintah yang ada sekarang, yang telah memberi ruang gerak bagi umat Islam secara proporsional di negeri ini, pemerintah Indonesia yang merefresentasikan suatu Departemen, Departemen Agama yang di dalamnya ada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, yang Direkturnya mestilah seorang muslim.

Kalau mau seperti ini- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama diterima sebagai Ulil Amri, yang dipercaya dan diberi otoritas oleh semua kalangan ummat Islam dalam hal menetapkan awal dan akhir bulan puasa,  semua pemimpin kelompok dan Ormas Islam  menerima apa yang diputuskan oleh Direktur Jenderal/ Ulil Amri  itu, maka kebersamaan ummat Islam dalam berhari raya dapat terwujud, jika tidak, Indonesia di tahun tahun depan masih akan pancawarna lagi.

Dan apabila kebersamaan itu sudah terwujud, ummat tidak lagi disibukkan oleh kegundahan karena masalah perbedaan awal dan akhir puasa, maka perhatian kita dapat diarahkan pada masalah bersama yang lebih penting, bagaimana agar orang orang yang tidak berpuasa itu supaya sadar dan kut berpuasa,

Untuk tujuan mulia ini diperlukan kemauan yang kuat dan ketulusan hati serta kejernihan pikiran dari semua tokoh yang ada di balik semua masalah itu. Mudah mudahan taufiq dan hidayah Allah akan datang dan bisa merubahnya.

Namun, kekhawatiran politis bisa menjadi penghalang bagi kemungkinan itu. Seandainya Direktur Jennderal Bimas Islam diakui otoritasnya oleh semua kalangan ummat Islam, titah perintahnya ditaati oleh hampir 150  juta warga negara Indonesia, bahkan mungkin lebih, maka kredibelitas seorang Dirjen bisa melebihi seorang kepala negara, lalu sebagian orang – Islamu phobi – tidak akan rela itu terjadi, hingga orang-orang itu lebih suka kalau ummat ini tetap terpecah belah, perpecahan yang berpangkal dari hal hal yang kecil seperti halnya mengawali dan mengakhiri puasa. Tentu akan aneh sekali, jika ada sebagian tokoh ummat ini yang seakan menikmati perpecahan itu, karena perpecahan kecil itu menandakan mereka masing masing masih memiliki otoritas yang tidak bisa dianggap enteng oleh pihak manapun, Padahal dengan adanya perpecahan itu ummat Islam menjadi enteng dengan sendirinya dimata orang banyak.

Ramadhan sudah berlalu. Usai Ramadhon tahun ini mari kita merenung, apakah lebaran yang Pancawarna – lima hari- seperti tahun ini akan terulang lagi tahun depan ?, apakah suasana perbedaan yang seperti ini enak? Kaya nya memang tidak enak, dan kalau tidak enak mari kita lepaskan otoritas kelomok atau organisasi yang mungkin lebih bersifat egoisme, mari kita ubah perbedaan ini menjadi kebersamaan yang penuh rahmat, Sekali lagi, nampaknya angan angan Syekh Saed Ramadhani Al Buthi,Ulama terkemuka Suriah ini adalah sebuah password, kata kunci untuk bisa membuka pintu kebersamaan umat dalam hal puasa dan lebaran, dan orang luar tidak lagi tersenyum lebar penuh makna “ejekan” melihat kerapuhan persatuan umat Islam. Islam kembali pada keagungannya yang bercirikan persatuan yang kokoh dan terlihat dengan adanya kekompakan dalam ber-idul fitri.

Samarinda, 19 Oktober  2007 Kurniadi ( Narasumber siaran Keluarga pada Radio Darussalam Samarinda ) 08164572605/08132991274.

 

  1. Assalamu’alaikum wr.wb..
    Perbanyak lgi artikel2nya….
    dan saran saya agar artikel dapat diperluas lagi terutama untuk yang para remaja..

  2. […] KENAPA HARI RAYA BERBEDA?, 2008/11/06 at 3:02 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: