arifin62

JUAL BELI

In 1 on November 13, 2008 at 11:24 am

JUAL BELI DITINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM

DI PASAR KAGET FATHUL KHAIR AIR PUTIH

SAMARINDA

I.             PENDAHULUAN

Dalam bagian Pendahuluan ini akan diuraikan mengenai latar belakang  yang berisi pengertian Pasar Kaget, sejarahnya, lokasinya, juga permasalahan yang ingin dicari jawaban melalui penelitian.

A.   Latar belakang

1.      Pengertian

Pasar Kaget ialah sebutan di masyarakat Samarinda untuk kegiatan pasar yang sifatnya sementara, dan tidak ada wadah berjualan yang permanen, hanya untuk waktu-waktu tertentu dan hanya berlangsung beberapa jam saja setiap kalinya, ada yang seminggu sekali, dua kali atau setiap hari, bisa pagi hari, bisa pula sore atau malam hari.

Pasar Kaget Fathul Khair, dinamakan demikian karena Pasar Kaget ini lokasinya dipinggir jalan raya persis di halaman  Masjid Fathul Khair di Jl. P. Suryanata, Kelurahan Air Putih Samarinda.

2.    Sejarahnya

Menurut keteranganan beberapa orang pedagang yang berejualan di sana, pasar tersebut telah dimulai sekitar 20 tahun lebih atau sekitar sejak tahun 1985 dan terus berlangsung sampai sekarang.

B.     Lokasi Penelitian

Pasar Kaget yang diteliti, Lokasinya  terletak di Jl. P. Suryanata, tepatnya di depan masjid Fathul Khair Samarinda.

C. Permasalahan

Masalah yang diamati menyangkut jual beli yang berlaku pada masyarakat di Pasar Kaget Fathul Khair kelurahan Air Putih, apakah kegiatan dimaksud sudah sesuai dengan hukum Islam.

II. HASIL PENELITIAN

Hal-hal yang disajikan dalam bagian ini mencakup hasil penelitian kepustakaan berkenaan aturan jual beli menurut hukum Islam, hasil peneltian lapangan berkaitan praktik jual beli di Pasar Kaget Fathul Khair, dan tinjauan terhadap praktik jual beli di pasar tersebut dari segi hukum Islam

A.      Aturan  Jual Beli Menurut Hukum  Islam

Di dalam syariat Islam, berjual beli ada rukun dan syarat yang mesti dipenuhi, yang apabila salah satu rukun maupun syarat itu tidak di jalankan maka jual beli itu dipandang tidak sah. Rukun dan syarat itu ialah; penjual dan pembeli, uang dan barang, dan ijab qabul.

Sebagaimana diuraiakan dalam buku Fiqh Islam yang disusun oleh H. Sulaiman Rasjid, adalah sbb ;

1.  Penjual dan pembeli; syarat kedua hal ini adalah

a.  Berakal, agar tidak terkicuh, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual beli nya

b.  Dengan kehendak nya sendiri(bukan di paksa)

c.  Keadaan nya tidak  berlaku mubazir

d.     Baligh. Sebagian ulama berpendapat anak kecil tidak sah jual belinya akan tetapi sebagian ulama lainnya memperbolehkan mereka berjual beli barang yang kecil-kecil yakni murah harganya karena kalau tidak diperbolehkan sudah tentu akan menjadi kesulitan dan kesukaran bagi mereka dan orang tua mereka, sedang agama Islam sekali-kali tidak akan mengadakan aturan yang mendatangkan kesulitan kepada pemeluknya.

2.  Uang dan barang, syarat kedua hal ini adalah

a.  Suci

b.  Bermanfaat

c.  Ada barang nya

d.  Milik sendiri atau di wakilkan

e.     Diketahui keadaan barang tersebut

3.  Ijab Qabul

a.  Antara ijab dengan qabul tidak terputus

b   Keduanya mufakat dalam ma’na walaupun berlainan lafaznya

c.  Tidak disangkut pautkan dengan hal hal yang lain

d.     Tidak untuk waktu yang terbatas.

Sebahagian ulama mewajibkan lafaz[1] dalam ijab qabul, itu berpangkal pada pemahaman kata-kata “suka sama suka”   ﺽﺍﺭﺗ ﻥﻋ[U1][2]Menurut mereka, suka sama suka itu dalam hati, ia tidak dapat diketahui kecuali dengan perkataan yang menunjukkan atas adanya suka seseorang, dalam hal ini ialah aqad.

Akan tetapi Imam Nawawi, Mutawalli, Bagawi dan beberapa ulama lainya berpendapat, bahwa lafaz itu tidak menjadi rukun, itu hanya merupakan adat kebiasaan saja. Apabila adat sudah berlaku seperti itu ( ijab dan qabul tanpa lafaz ), jual beli sudah dianggap sah, karena tidak ada dalil yang jelas mengenai wajibnya lafaz dalam ijab qabul

Dengan demikian maka jual beli menurut Islam haruslah teridiri dari beberapa unsur, rukun dan syarat yaitu; penjual dan pembeli yang berakal sehat, bukan dipaksa, dan cakap, uang dan benda yang diperjual belikan haruslah suci, bermanfaat, milik sah, jelas barangnya, dengan ijab qabul, satu pengertian, yang sesuai kebiasaan yang berlaku, dan bersifat mutlak.

B.  Hasil Pengamatan Terhadap Praktek Jual Beli Di Pasar Kaget Fathul Khair   Air putih  Samarinda.

Pasar Kaget ini berlangsung dari sekitar jam 06.00 s.d 09.00 atau sekitar 3 jam setiap harinya. Selama waktu berlangusngnya Pasar Kaget tsb, diperkirakan telah terjadi transaksi sekitar  60 samapai 90  kali setiap pedagang perharinya, Seluruh trsansaksi diperkirakan mencapai 1.200 kali lebih, mencakup 20 pedagang setiap harinya.

Perkiraan ini diperoleh berdasarkan atas pengamatan terhadap kegiatan transaksi selama dua jam pada tiga hari pemantauan

Dilihat dari aspek penjual dan pembeli, barang yang diperjual belikan dan ijab qabulnya sesuai hasil pengamatan di lapangan, dapat diuraikan sbb;

1.      Penjual dan pembeli

Penjual atau pedagang yang ada dipasar kaget ini, berjumlah 20 orang, 16 laki-laki dan 4 orang perempuan, semuanya beragama Islam, rata-rata sudah dewasa, berakal sehat, dan tidak dipaksa oleh pembelinya.

Dari segi pembeli, umumnya beragama Islam, sudah dewasa berakal sehat, tidak dipaksa untuk membeli, akan tetapi ada sebagian kecil pembeli yang belum baligh.

2.    Barang yang diperjual belikan

Dalam hal barang yang diperjual belikan umumnya berupa sayur-mayur, ikan segar/beku dan ikan asin, buah-buahan, serta bahan-bahan kebutuhan dapur lainnya.

3.     Ijab Qabul

Transaksi jual beli di pasar kaget ini, yang setiap harinya diperkirakan mencapai 1.200 kali[3]. Dari sebanyak 20 kali transaksi yang diamati, lima kali diantaranya dilakukan dengan lafaz tukar-jual, selebihnya 8 kali transaksi tidak melafazkan tukar-jual, tetapi pembeli mengucapkan   terima kasih dan penjual menjawab sama-sama, 7 kali tanpa ucapan apapun yang menggambarkan penyataan jual-beli.

Dengan demikian diperkirakan 25 % atau 300  transaksi yang terjadi telah menggunakan akad dengan lafaz jual-beli dan 40 % atau 480 kali menggunakan kalimat terima kasih, dan 35 % atau 420 ,kali tanpa penyataan apapun yang menggambarkan jual-beli.

C. Praktik Jual Beli Di Pasar Kaget Fathul Khair Air Putih Samarinda Ditinjau Dari Segi Hukum Islam

1.      Penjual dan pembeli

Dari segi penjual dan pembeli, kesemuanya telah memenuhi syarat dan rukun untuk berjual beli yang telah sesuai syari’at islam.

Memang dari sebagian pembeli ada anak kecil yang diperkirakan belum mencukupi umur, namun menurut sebagian ulama  diperbolehkan anak kecil berjual-beli barang yang kecil-kecil nilainya,

2.  Barang yang diperjual belikan

Untuk barang yang di perjual belikan  disini umumnya telah memenuhi syarat dan rukun jual-beli, untuk kepemilikan barang yang diperjual belikan itu umumnya milik sendiri dan ada sebahagian yang menjualkan milik orang lain

3.  Ijab Qabul

Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa trrransksi yang berlaku dipasar kaget ini;

a.  Sekitar 25%  atau  300  mengunakan aqad jual-beli

b.  Sekitar40% atau 480 tanpa ucapan jual-beli tapi mengucapkan kalimat terima kasih-sama-sama, suatu kalimat yang masih dapat dikatakan sebagai aqad karena sudah dapat dianggap menyatakan rasa suka dari hati masing-masing.

c.  Dan ada sebagian lagi sekitar 35%atau 420 yang tidak tampak beraqad dengan lafaz apapun.

Dengan demikian, sebagian besar 65 % atau 780 telah memenuhi ketentuan ajaran Islam dalam hal akad, selebihnya35% atau 420 keabsahan transaksinya dalam hal akad masih perlu penelitian lanjutan.

III.       PENUTUP

Dalam makalah ini, telah diuraikan tentang jual beli menurut syariat Islam, bagaimana praktik jual beli di Pasar Kaget Fathul Khair, tinjauan hukum Islam terthadap praktik jual beli di Pasar Kaget dimaksud, diperkuat dengan data-data yang dihimpun dari para penjual dan pembeli.

Untuk selanjutnya, sesuai hasil pembahasan dan penelitian tersebut, penulis akan memberikan kesimpulan dan saran-saran

A.   Kesimpulan

1.            Praktik jual beli di Pasar Kaget ini, dari aspek penjual dan pembeli,  serta barang yang diperjual-belikan, umumnya telah sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam syariat Islam,

2.          Dari segi transaksi, umumnya telah menerapkan aturan akad secara jelas, meskipun,

3.           Dari segi akad, masih ada sebagian kecil transaksi yang tidak tampak akad-nya.

B.           Saran-saran

1.            Pembinaan agama terhadap para pedagang perlu diitingkatkan, khususnya menyangkut syaria’at Islam tentang  jual-beli, agar semua jual-belinya selalu ber-akad, dan akad itu dimulai secara aktif oleh pedagang.

2.          Pengurus Masjid Fathul Khiar Air Putih Samarinda, sebaiknya mengumpulkan para pedagang dimaksud untuk diberikan pembinaan sebagai bagian dari kegiatan Majlis Taklim-nya.

3.           Perlu dilakukan penelitian yang lebih intensif terhadap jual beli yang tidak tanpak jelas akad nya, menyangkut keabsahan jual-belinya dari segi syaria’at Islam.

DAFTAR PUSTAKA

1.      H. Sulaiman rasjid . Fiqh Islam

2.    TIM PENYETARAAN D-II GURU PAI SD DAN MI DEPARTEMAN AGAMA  terbitan DEPARTEMAN AGAMA RI 1993

3.  BUKU PAKET  FIQIH , terbitan DEPARTEMEN AGAMA


[1] Lafaz; dalam kamus Bahasa Arab berarti perkataan(ijab qabul)

[2] انماالبيع عن تراض(رواه ابن عباث)

[3] 60pembeli x 20pedagang =1200 transaksi -per/pedagang


[U1]انما البيع عن تراض›۰روه ابن خبا ن‹

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: