arifin62

TANGGAPAN DARI CAIRO

In 1 on November 15, 2008 at 8:44 pm

TANGAPAN DARI CAIRO

Abu Fatih
al_fatih2002@yahoo.com | 41.234.68.82

Asalamu Alaikum Warahamatullah

Mari galang persatuan umat.
Sebenarnya penentuan awal bulan qamariah yang terkait dengan banyak ibadah baik wajib maupun sunnat, memang dikembalikan kepada Ijtihad para ulama, baik itu berkaitan dengan Bulan Ramadhan maupun di luar Bulan Ramadhan. Namun dikecualikan dengan hari Raya Idul Adha. Hal itu karena perhelatan besar itu terkait dengan prosesi ibadah haji.
Sebenarnya dari kacamata fiqh, persoalan ini sangatlah simpel. Sampai-sampai difatwakan oleh ulama bahwa jika seandainya banyak jemaah haji yang wukuf -secara keliru- pada tanggal 8 atau 10 dzulhijjah jika ditinjau realita obyektifnya, maka Hajinya tetap diterima insyallah.

Namun tentu saja, persatuan umat sungguh merupakan idaman setiap insan muslim. Ketika jemaah-jemaah umat Islam secara bersamaan menjalani prosesi ibadah shalat iedul adha -misalnya-, membentuk ribuan lingkaran suci di seluruh penjuru bumi, menjadikan “Mekkah” sebagai pusat bumi, tentu ia dapat memberi sebuah citra baik di mata dunia. Umat mana yang mampu melakukan hal itu. Lebih dari itu, tentunya, persatuan sejati dalam skala nasional harus terwujud jika memang persatuan global belum lagi terwujud. Zaman ini adalah era kebersamaan. Siapa yang selalu menyendiri menjauh dari kebersamaan akan mudah tertipu oleh gegap gempita era modern bahkan tergilas oleh gelombang zaman

Al baaqi Huwal Baaqi

Cairo, 5 November 2008

Abu Fatih

Dari BERHARI RAYA DI INDONESIA DAN DI MAKKAH, 2008/11/06 at 4:34 AM

Abu Fatih
al_fatih2002@yahoo.com | 41.234.68.82

Asalamu Alaikum Warahamatullah

Mari galang persatuan umat.
Sebenarnya penentuan awal bulan qamariah yang terkait dengan banyak ibadah baik wajib maupun sunnat, memang dikembalikan kepada Ijtihad para ulama, baik itu berkaitan dengan Bulan Ramadhan maupun di luar Bulan Ramadhan. Namun dikecualikan dengan hari Raya Idul Adha. Hal itu karena perhelatan besar itu terkait dengan prosesi ibadah haji.
Sebenarnya dari kacamata fiqh, persoalan ini sangatlah simpel. Sampai-sampai difatwakan oleh ulama bahwa jika seandainya banyak jemaah haji yang wukuf -secara keliru- pada tanggal 8 atau 10 dzulhijjah jika ditinjau realita obyektifnya, maka Hajinya tetap diterima insyallah.

Namun tentu saja, persatuan umat sungguh merupakan idaman setiap insan muslim. Ketika jemaah-jemaah umat Islam secara bersamaan menjalani prosesi ibadah shalat iedul adha -misalnya-, membentuk ribuan lingkaran suci di seluruh penjuru bumi, menjadikan “Mekkah” sebagai pusat bumi, tentu ia dapat memberi sebuah citra baik di mata dunia. Umat mana yang mampu melakukan hal itu. Lebih dari itu, tentunya, persatuan sejati dalam skala nasional harus terwujud jika memang persatuan global belum lagi terwujud. Zaman ini adalah era kebersamaan. Siapa yang selalu menyendiri menjauh dari kebersamaan akan mudah tertipu oleh gegap gempita era modern bahkan tergilas oleh gelombang zaman

Cairo, 5 November 2008

Abu Fatih

Dari BERHARI RAYA DI INDONESIA DAN DI MAKKAH, 2008/11/06 at 4:32 AM

Abu Fatih
al_fatih2002@yahoo.com | 41.234.68.82

Assalamu alaikum warahmatullah
Sehat pak?
Mudah-mudahan suara bapak yang telah diteriakkan di berbagai belahan Dunia Islam menjadi sebuah fase baru umat Islam di era digital ini menuju sebuah kebangkitan sejati.
Demikian kira-kira potret dunia Islam yang sejak satu abad lebih mengalami proses transisi sejak sebelum tumbangnya Khilafah Utsmaniah hingga hal yang begitu menyakitkan itu benar-benar terwujud. Sejak itu, umat Islam yang sebelumnya dipayungi oleh Payung Besar “Khilafah” seolah-olah diombang-ambingkan gelombang zaman. Umat Islam berada dalam sebuah proses dengan berbagai kemungkinan yang mengintai. Semua itu tentu tak lepas dari rencana besarNya. (Liya’lama lLahu llazina aamanu wa yattakhiza minkum-usy syuhadaa. QS Ali Imran:140). Berbagai pelajaran dapat dipetik dari berbagai hadits Nabi SAW seputar bagaimana menyikapi peristiwa-peristiwa masa depan yang dapat menyilaukan mata.
Ketika “payung kebersamaan” itu masih tegar membentengi umat Islam dalam berbagai lini kehidupan, kaedah “hukmu l-hakim yarfa’ul khilaf” (yang kira-kira maksudnya bahwa keputusan pihak berwenang menuntaskan perbedaan pendapat yang ada) senantiasa membendung terjadinya setiap kemungkinan friksi dan keretakan dalam komunitas muslim. Tentu sangat diharapkan kaedah ini diupayakan untuk dilembagakan dalam masyarakat kita untuk membendung arus perbedaan yang seringkali susah untuk diatasi. Hal itu dapat terwujud lewat keputusan bersama, kepres atau bahkan UU yang disepakati oleh wakil rakyat. Sudah saatnya kita menghilangkan sifat “malu” sebagai mayoritas untuk mengatur kehidupan sosial kita.
Seringkali orang-orang yang sok tahu menuding umat Islam yang semakin hari meneriakkan penerapan syariah di bumi nusantara ini, bahwa ketika ingin menerapkan Islam, Islam yang mana yang ingin diterapkan, Hanafiah, Malikiah, Syafi’iyyah, Hanabilah? Mereka seakan lupa bahwa hukmu l-hakim yarfa’ul khilaf. Atau mungkin mereka segera angkat suara,”Itu kan tipikal pemerintah yang otoriter”.

Al Baaqi Huwal Baaqi
Wassalam

Abu Fatih

Dari KENAPA HARI RAYA BERBEDA?, 2008/11/06 at 3:02 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: