arifin62

HAJI,IBADAH,TRADISI DAN KEBANGGAAN

In 1 on Januari 11, 2010 at 8:07 am

HAJI

IBADAH, TRADISI DAN KEBANGGAAN.

Drs. H. Kurniadi

Ada diantara jamaah yang bertanya kepada salah seorang ja,maah lainnya     “ adat kami, seusai berhaji, ada yang memakaikan kopiah haji bagi laki laki atau bolang bagi perempuan ( tutup kepala tradisisional Arab ) bgaimana ya? Yang ditanya menjawab “ maaf, saya tidak tahu adat itu” karena yang ditanya  berlainan adat dengan jamaah yang bertanya.

Yang ditanya tadi katanya hanya pernah mendengar sedikit cerita mengenai acara “pasang bolang” itu, orang yang memesangkan bolang umumnya mendapat hadiah dari mereka bisa berupa uang ataupun barang.

Ada pula yang menyatakan bahwa “adat kami, setiap orang berhaji, ia mesti berkorban di Makkah, disamping bayar Dam. Karenanya mereka harus menyediakan uang untuk dua ekor kambing, satu untuk korban dan satunya lagi untuk bayar dam. Padahal, korban itu semestinya dibagikan untuk tetangga, karenanya lebih afdal di tanah air, bagitu kata Syekh Umar Sudeis yang berkunjung ke kemah kami saat di Mina.               .

Setiap orang begitu bersemangat untuk mencium Hajaral Aswad, meskipun harus bersusah payah, jatuh bangun, terdorong dan terhimpit ditengah ratusan orang, dengan resiko yang riskan bagi yang fisiknya lemah. Begitu kuatnya keinginan itu, sampai yang pakai kursi roda juga minta dibawa kesana, bahkan tidak sedikit yang harus membayar ojek, tidak masalah kalau laki laki dipapah oleh ojek laki laki juga, tapi kalau saja perempuan ( maaf , terpaksa dipeluk oleh laki laki ojek yang bukan muhrimnya, tentu saja itu haram )  itu semua karena setelah pulang nanti mereka ditanya oleh keluarganya “apakah kamu dapat mencium hajaral aswad? “ kalau tidak, tentunya akan ada perasaan tidak enak.

Ada diantara jamaah yang bertanya “ bagaimana sebenarnya pakaian orang haji itu ?”. Pertanyaan ini mungkin muncul karena melihat sebagian dari jamaah membeli pakaian tradisional bangsawan Arab berupa jubah atau gamis plus iqal ( ikat kepala pria ) dan bolang untuk wanita.

Petugas menjawab, sesungguhnya pakaian orang haji itu adalah yang menutup aurat, modelnya mau kayak bangsawan Arab; jubah atau gamis plus igal dikepala, boleh, atau mau pakai jas seperti orang bole juga boleh, asal pantas dilingkungannya.

BEGIITULAH JIKA RANGKAIAN IBADAH HAJI DILAKUKAN SEBAGAI SUATU TRADISI

Mencium Hajaral Aswad seakan  hal yang  wajib padahal itu cuma sunnat yang tidak setiap kali thowaf Rasulullah dan sahabat melakukannya. Mereka mesti melakukannya meskipun untuk yang sunnat itu mereka dapatkan dengan resiko nyawa sebagai taruhannya, terhimpit dan tersikut, bahkan dengan melakukan yang haram dengan cara jamaah perempuan membayar ojek yang akan mebantunya sampa ke Hajaral Aswad dengan dipeluk oleh laki laki yang bukan muhrimnya. Ia menjadi wajib bagi mereka yang menganggapnya sebagai adat dan  akan ada pertanggung jawaban adat untuk itu, begitu tiba dirumah, ia akan ditanyai oleh keluarga atau kawan kawannya, dan akan malu jika jawabannya “tidak” dan tentu saja ada kebanggaan tersendiri jika jawabnya “ya”.

Acsesoris  haji sangat penting untuk dipakai dan pengalaman  unik selama berhaji sangat penting didapatkan karena itulah yang bisa dibanggakan.

BEGIITULAH JIKA  AMALIYAH IBADAH HAJI DILAKUKAN SEBAGAI SUATU KEBANGGAAN

Ikhklas artinya niat dan motivasi; pertimbangan hati atas apapun yang kita lakukan hanya karena Allah, hanya semata mata melaksaaka perintah Allah, hanya semata mata mengikuti sunnah Rasulullah.

Ada tiga hal yang merusakkan ke -ikhlas-an itu, yaitu ‘ujub, riya dan sum’ah.

‘Ujub artinya ada rasa bangga dalam hati karena merasa ada kelebihan pada dirinya karena sudah melakukan suatu kebaikan atau menghindari dosa, ujub ini, orang lain tidak tahu hanya dirinya yang merasa dan Allah yang tahu.

Riya, artinya ada di hati ingin pamer saat melakukan suatu kebaikan atau menghindari dosa. ,perihal hatinya yang  ingin pamer ini orang lain tidak tahu hanya dirinya yang merasa dan Allah yang tahu.

Sum’ah, artinya ada di hati ingin didengar orang beritanya saat melakukan suatu kebaikan atau menghindari dosa. ,perihal hatinya yang  sum’ah ini orang lain juga tidak tahu hanya dirinya yang merasa dan Allah yang tahu.

Orang berpakaian bagus, lalu ada rasa bangga dalam dirinya dengan pakaian bagus itu, berarti ia ‘Ujub, tapi dengan berpakaian biasa biasa saja, namun dihatinya merasa lebih hebat  karena mau tampil sederhana juga ‘Ujub

Orang berpakaian bagus Saat pulang haji, karena ingin menyenangkan para penjemputnya, atau karena mensyukuri n’mat Allah, itu baik, tapi jika karena ingin dilihat orang sebagai orang yang sudah haji, itulah riya,

Pulang haji dengan berpakaian biasa biasa saja, karena Islam mengajarkan hidup sederhana, itu baik, tapi dengan berpakaian biasa biasa saja, namun dihatinya ingin dilihat dan dipuji orang sebagai orang sederhana, juga ‘Riya’

Mencium Hajaral Aswad karena Rasulullah dan sahabat melalukan itu, semata mata karena mengikuti sunnah, itu ibadah yang benar. Tapi jika karena untuk menjawab pertanyaan keluarga setelah pulang haji, itu Sum’ah. Setelah berhasil mencium Hajaral Aswad ia bercerita kepada kawannya, begiitu juga sum’ah, dihatinya ada rasa bangga apalagi jika kawannya itu belum, itupun juga ‘ujub.

Setelah pulang haji, pakaian pakaian haji selalu dikenakan, kemana mana pakai kopiah haji, kemana mana pakai bolang, selalu menutup aurat, saat waktu sholat tiba langsung ambil wudhu, bersiap untuk sholat, sholat berjammaah, itulah pertanda HAJI MABRUR karena hajinya ikhlas.

Setelah pulang haji, pakaian pakaian haji selalu dikenakan, kemana mana pakai kopiah haji, kemana mana pakai bolang, tapi pakaiannya tidak menutup aurat, tengkuknya kelihatan, atau bajunya lengan pendek atau bahkan rok pendek,  saat waktu sholat tiba tetap acuh tak acuh, tidak peduli sholat berjammaah, itukah pertanda HAJI MABUR? yang hajinya karena tradisi atau untuk kebanggaan semata ?, hanya Allah yang tahu pastinya, tapi diri sendiri tentu merasa bagaimana yang ada didalam hatinya.

Berhaji, dengan cara yang dituntunkan oleh syariat,

Saat mengerjakan haji, dimulai dengan berihram di miqat, niat umrah hanya karena melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah,  pakaian khusus ihram, sampai di Makkah, mengerjakan umrah dengan cara thawaf di Ka bah, sai antara Shofa dan Marwa lalu memotong rambut. Umrah pun sudah selesai, status ihram sudah berakhir, boleh kembali pada pakaikan biasa. Kemudian pada tanggal 8 Zulhijjah, kembali berpakaian ihram dengan niat ihram haji, hanya karena melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah, lalu berangkat ke Mina atau langsung ke Arafah, tanggal 9 Zul Hijjah wuquf di Arafah, sehabis maqrib menunju Muzdalifah, bermalam disana hingga melewati tengah malam, kemudian menuju Mina, tanggal 10 Zulhijjah melontar Jumrah Aqabah, lalu memotong rambut, status Ihram sudah bebas tahap satu atau tahallul awal, sudah boleh pakaian iasa, tanggal 11 dan 12 melontar jumrah ula. Wustho dan aqabah, boleh mennggalkan Mina ke Makah kembali ( nafar awwal ) atau tetap di Mina hingga tanggal 13 ( nafar Tsani ) baru kembali ke Makkah, untuk thowaf dan Saie. Ibadah Haji sudah selesai, status Ihram sudah bebas tahap dua atau tahallul Tsani, segala larangan Ihram sudah boleh ( dilanjutkan dengan memoton kambing  jika tatacara berhajinya menuntut bayar Dam, berupa penyembelihan kambing di tanah Haram, misalnya Haji Tamatu atau Qiran )

Saat Thowaf, memulainya dari Hajaral Aswad ( batu hitam yang tertanam di salah dsatu sudut didinding Ka’nah, dengan meng-istilami-isyarat tapak tangan menciumnya, dan istilam setiap putaran melewatinya,

Mencium Hajaral Aswad, Rasulullah tidak selalu melakukannya. Umar bin Khottab berkata, Engkau hanyalah batu, tidak bisa menimbulkan manfaat ataupun menolak mudharat, kalau saja Rasulullah tidak menciummu, maka akupun tidak akan menciummu.

selesai tujuh putaran dilanjutkan dengan sholat sunnat thowaf di tempat yang sejajar maqam Ibrahim.

Selain itu, setiap jamaah haji selama di tanah suci selalu dan selalu;

  1. Rajin sholat berjamaah, terkadang dua jam sebelum waktunya sudah pergei kemasjid, naik bus berdesakan bahkan bayar taksi juga mau.
  2. Membiasakan diri untuk banyak beribadah
  3. Semua sholat sunnat dilakukan, tahajjud tiap malam, sunnat sebelum dan sesudah fardlu dan doha.
  4. Banyak berzikir, tasbieh selalu ditangan.
  5. Selalu berpakaian menutup aurat.
  6. Selalu memenuhi kewajiban serta menghormati hak orang lain.
  7. Selalu berlaku jujur
  8. Selalu menjauhi  kemunkaran.
  9. Selalu sabar terhadap orang lain.
  10. Selalu berbicara yang baik baik.
  11. Selalu sabar menderita.
    1. Suka membantu orang lain
    2. Tidak  angkuh.
    3. Tidak sayang berlebihan pada harta.

Semua itu dilakukan semata mata mengikuti ajaran Rasulullah dan sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah, segala  apa yang dilakukan dihayati dan direnungi apa maksudnya dan hikmahnya. Dengan penghayatan dan renungan itulah akan ada bekas yang kuat pada jiwanya, hingga keyakinannya akan kebenaran Islam semakin kuat, semangat ke Islamannya semamkin tinggi, ibadahnya semakin tekun, pakaiannya selalu menutup aurat, perilakunya semakin saleh akhlaknya semakin mulia, dan hidupnya semakin penuh makna, karena seluruh rukun Islam telah disempurnakannya, dan seluruh ajaran Islam tidak ada yang diabaikannya. Masyarakat memandangnya sebagai orang yang HAJInya MABRUR.

Begitulah HAJI SEBAGAI IBADAH, ikhlas karena Allah. Segala hal yang dapat menjerumuskannya pada ‘ujub, riya dan sum’ah dijauhinya, segala atribut ataupun  acsesoris haji tidak begitu penting baginya, yang terpenting adalah bekas pengalaman haji iutu pada jiwa dan perilakunya.

Bagi yang belum berhaji, sebaiknya mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang;

  1. Mempersiapkan diri dari sekarang agar fisik sehat, bugar dan tahan untuk bepergian jauh dan kegiatan ibadah yang sebagian besar dilakukan secara fisik.
  2. Mempersiapkan ilmu dari sekarang, agar dalam melakukan segala manasik  haji  dan ibadah ibadah lainnya tidak terjadi kesalahan, berdasarkan pemahaman dan bukan sekedar ikut ikutan.
  3. Memempersiapkan jiwa dari sekarang, agar siap mental hingga tidak stres, tidak gampang marah, dan tidak suuzzon
  4. Mempersiapkan hati dari sekarang, agar berhati lapang, sabar, percaya diri, tawakkal, husnuzzon, ikhlas, tidak ujub, riya atau sum’ah.
  5. Meluruskan aqidah agar tidak melakukan hal hal syirik dalam berhaji.

Dengan persiapan persiapan itu, insyaallah kita akan dapat melakukan ibadah haji, dengan ikhlas, semata mata karena untuk melaksanakan perintah Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, tidak tercampur aduk dengan adat atau tradisi dan kebanggan dan berbagai perilaku syirik yang merusakkan keikhlasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: