arifin62

BEBERAPAKEJANGGALAN DALAM BERHAJI

BEBERAPA KEJANGGALAN DALAM BERHAJI.

Mencium Hajaral Aswad seakan  hal yang  wajib. Mereka mesti melakukannya meskipun untuk yang sunnat itu mereka dapatkan dengan resiko nyawa sebagai taruhannya, terhimpit dan tersikut, bahkan dengan melakukan yang haram dengan cara; jamaah perempuan membayar ojek yang akan mebantunya sampa ke Hajaral Aswad dengan dipeluk oleh laki laki ojek yang bukan muhrimnya itu.

Padahal saat di Madinah, , Tidak sebanyak di Hajaral Aswad orang berjejal, berebut, tidak ada orang saling himpit dan sikut sikutan  untuk I”tikaf di Radloh.

Untuk mencium Hajaral Aswad Mereka mesti pergi tengah malam ke Masjidil Haram bahkan bisa lebih awal,

Tapi di Masjid Nabawi, jam tiga dinihari masjid masih    lengang.

Sholat sunat tahajjud, witir, dhoha, dan taubat selalu dikerjakan, qabliyah dan ba’diyah tidak pernah dilewatkan.

Tapi tidak sedikit yang melakukan sunat ba’diyah subuh. Padahal tidak ada sunat ba’diyah subuh, meski saat itu di Masjidil Haram tidak terlarang sholat sunat.

Ada yang sholat subuh tiga rakaat,  kejadiannya; subuh Jum’at Imam membaca surah Assajdah, sampai pada ayat sajjadah Imam langusung sujud tilawah ( satu kali ) terus berdiri lagi dan melanjutkan bacaannya, jamaah malah ruku’, baru sujud dua kali, terus berdiri lagi bersama Imam hingga Imam selesai dua rakaat dan jamaah itu pada rakaat ketiga.

Ada jamaah yang sholatnya balap balapan, kejadiannya; jamaah terlambat datang, Imam sudah satu rakaat, ia takbiratul Ihram, lalu ruku, sujud, lantas ia ikut Imam sama sama pada rakaat berikutnya hingga salam.

Ada jamaah yang memeluk, mengusap dan mencium tiang masdjil Haram Makkah, tiang itu agak sedikit beda karena permukaannya kasar tidak licin seperti tiang lainnya yang berlapis batu pualam. Saya tanya  orang Arab yang berjaga disekitar situ, Arab itu malah menceramahi aku, katanya itu syirik, saya katakan saya ini petugas Haji Indonesia, katanya, apalagi petugas, jangan sampai melakukan hal yang salah lalu ditiru jamaah, saya katakan bahwa saya perlu tahu penjelasannya kenapa orang orang begitu, agar saya bisa menjelaskan kepada jamaah Indonesia, Saya tanya, siapa saja yang biasa mencium tiang itu, katanya orang Afganistan, Indonesia sedikit. Katanya lagi, tanya saja pada orang Afganistan itu, Saya dekati dua orang orang afganistan usai ia mencium tiang itu, Isy haza ( apa ini ? ) Haza ‘amud yattaki u alaiha Rasulullah hinal mi’raj, wabihaza bait ummi Hani       ( Ini tiang, dimana Rasulullah bersandar saat mi’raj, dan disini rumah Ummi Hani  ( binti Abi Thalib; sepupu Rasulullah ) Saya katakan “Waq’atal mi’raj fi palesthin, wahaza ‘amud mafi ( peristiwa mi’raj itu di pallestina dan saat itu tiang ini belum ada ) orang Afganistan itu pergi tanpa bicara. Datanglah dua orang Indonesia, melakukan hal yang sama, saya tanya “ ada apa ini” katanya ini tiang Rasulullah bersandar ketika Mi’raj, dan disini Rasulullah mengikat Borak” saya katakan mi”rajkan itu di Palestina dan saat itu tiang ini belum ada, si Indonesia itu berkata “ kalo nggak percaya, ya sudah, sambil berlalu, pergi dengan nampak kesal atas pertanyaan saya. Si Arab mengatakan, satu satunya riwayat yang sahih berkenaan dengan tiang itu adalah bahwa disitu biasanya Nabi Muhammad saw dahulu mengikatkan ontanya, namun tidak ada penjelasan apakah disitu dulunya berupa pohon ataukah tonggak atau berupa apa tempat mengikat  onta yang dimaksud, yang pasti tiang yang mereka cium itu belum ada saat itu. Saat ini sebagian orang mengenal tiang itu sebagai “tiang Jin”.

  1. Ada jamaah yang pingsan saat thawaf, pada saat putara ke 47 dari 49 putaran yang ia rencanakan. Hal itu ia lakukan karen a ia ingin thawaf sebanyak 7 kali, jadi 7 kali 7 jumlah 49 putara. Padahal thawaf itu tujuh kali putaran ditutup dengan sholat sunnat thowaf, bahkan dianjurkan untuk minum air zam zam sebelum sholat. Kalau sekaligus 49 putaran, kami belum tahu dalil atau dasarnya.
  2. Ada yang melakukan umrah sunnat berulang ulang seusai berhaji, ia rencanakan  sebanyak tujuh kali, entah pada umrah yang keberapa ia jatuh sakit setelah berihram dengan mengambil miqat di tan’im. Karena sakit ia langsung  istirahat dirumah dan pakaian ihram ia tanggalkan begitu saja. Petugas tahu karena isterinya bercerita kepada petugas medis, petugas medis mengingatkan isterinya itu bahwa Ihram tidak bolleh dilepas begitu saja, kalau umrah tidak diteruskan karena sakit maka harus bayar Dam. Setelah itu baru ia mengurus penyelesaian Dam nya.

Itulah sebabnya kalau ibadah ikut ikutan dan sepertinya terlalu bernafsu, tanpa dilengkapi ilmunya, lebih faham dokter yang biasa dikenal cuma tahunya urusan suntik dan obat batuk semata.

  1. Beberapa orang perempuan duduk santai diteras hotel padahal saat itu dimasjid sedang dikumandangkan azan magrib. Seorang jamaah laki laki mengingatkan ibu ibu itu, bahwa ini magrib, di masjid sudah azan, kalau tidak sholat sebaiknya jangan duduk di teras. Para perempuan itu lantas buru buru masuk kedalam sambil meminta maaf kepada yang mengingatkan.
  2. Beberapa orang perempuan keluar hotel dengan berpakaian daster, jamaah laki laki mengingatkan ibu ibu itu, bahwa ini di Arab, Makkah mereka akan memandang aneh sekali kejadian itu. Para perempuan itu lantas buru buru masuk kedalam sambil meminta maaf kepada yang mengingatkan.
  3. Ada jamaah laki laki keluar kamar dengan berpakaian celana pendek, bergabung dengan jamaah lainnya. Seorang temannya mendekati orang itu dan membisikinya, dengan tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih orang itu mamsuk kamar dan keluar lagi dengan pakaian lebih rapi.

Yang dibisikkannya adalah “bercelana  pendek itu ditengah umum tidak pantas bagi orang yang sudah haji”

  1. Beberapa orang membeli buah, buahnya berwarna oklat, kering dan keras.

Mereka menyebutnya “buah nyaman” pada etnis yang berbeda menyebutnya “buah senang” Saya tanya untuk apa? Katanya disimpan ditempat uang di toko, atau di tempat beras, atau dilemari anak gadis. Maksudnya agar hidup selalu nyaman.

Saya tanya kepada yang menjual. Ini namanya buah YAMAN, dari pohon YAMAN, tumbuhnya di YAMAN, yang menjual juga orang YAMAN. Lisy Haza ( Untuk apa kegunaannya ? ) lil aqim, duqqa haza, waduqqa haza, bilmuya ka sain, bukrah syurb rijal walhormah. Wad’ullah, insyaallah. ( Dipecah kulitnya, dikeprak isinya, direndam pada dua gelas air, pagi hari diminum oleh laki laki dan isterinya, berdo’a kepada Allah, Insyaallah berhasil )

Ternyata buah Yaman itu adalah untuk obat herbal penyubur bagi pasangan mandul. Sementara oleh jamaah haji Indonesia dianggap sbagai  azimat, buah pembawa nyaman hidup orang yang menyimpannya, suatu kepercayaan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan tujuan asal dari orang Yaman penjualnya. Kepercayaan terhadap suatu benda sebagai azimat seperti itu  adalah termasuk syirk atau menyekutukan Allah dan merupakan dosa besar, yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang  yang berhaji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: